Tampilkan postingan dengan label kolom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kolom. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 September 2010

Kekasih Telah Berlalu


Sekiranya manusia tahu apa yang disediakan untuk mereka di dalam Ramadhan, maka mereka akan berharap, sepanjang tahun itu adalah Ramadhan”

Dengan tenggelamnya matahari di barat pada akhir Ramadhan, gema takbir berkumandang di seluruh penjuru dunia maka terhapuslah sudah semua pantang-larang pada bulan ramadhan. Lapar dahaga telah berakhir, tak ada lagi terawih yang melelahkan, jadwal ngapel semakin lancar tanpa halangan jam tadarus, tidur juga kembali pulas karena tak ada lagi thongthek yang membangunkan untuk sahur.

Menang, itulah yang di rasakan remaja muslim ketika telah masuk 1 syawal. Apa yang mereka lakukan untuk mengekspressikan hal tersebut? Mereka ramai merayakan Idul Fitri dengan tidak menjaga aurat serta batas hubungan lelaki dan perempuan. Ada juga yang sibuk bersillaturrahim dari rumah ke rumah sehingga meninggalkan solat. Ada yang sibuk masak di malam raya, akhirnya subuh dan solat sunat Idul Fitri entah ke mana. Lantas adakah kita di antara mereka?

Na’udzubillahimin dzalik
Sepatutnya kita membuka hati untuk lebih memaknai hari raya idul fitri. Sadarkah kita, ketika kita ramai merayakan idul fitri sejatinya kita tengah ditinggalkan sang kekasih “Ramadhan mubarrak”, salahkan kita menyebutnya dengan kekasih? Tentu saja tidak, Ramadhan adalah makhluk. Jika kita mencintainya, maka Ramadhan akan mencintai kita. Ramadhan adalah hadiah. Hadiah dari pencipta kita. Jika kita menghargainya, maka Si Pemberi hadiah akan menghargai kita. Ramadhan adalah kekasih kepada hati-hati yang hidup. Jika hati kita hidup, maka kita akan merasakannya.
Layaknya kita menjadi kekasih Ramadhan, tentu sebuah keadaan yang sangat berat bila benar-benar kita mau berkaca atas diri kita. Namun dengan cara demikian, rasa pertanggung jawaban kita terhadap status diri yang berharap dapat patut dicintai, dirindukan, dan disayangi oleh ramadhan tentu akan terpacu. Ya, inilah cara agar bagaimana diri kita bisa belajar mempertanggung jawabkan perbuatan  sesuai status yang diberikan/diamanahkan kepada kita. Termasuk status kita sebagai hamba Allah yang telah banyak diberikan fasilitas penunjang kehidupan.

Mari kita flashback pada kehidupan rasulullah dahulu, beliau berikut para sahabatnya merasa sedih ketika menginjak tanggal 20 bulan ramadhan dan kesedihan itu kemudian pecah menjadi air mata saat beliau benar – benar ditinggalkan oleh Ramadhan.
Tangis, ia hanya akan muncul apabila kita mengerti hakikat Ramadhan dan segala hal ehwalnya sebagaimana telah dibahas berulang kali dalam pesantren kilat pada akhir ramadhan yang lalu di MA. Wahid Hasyim. Ramadhan adalah bulan yang teristimewa, istimewa karena anugerah Allah Taala yang telah menjanjikan bulan ini lebih baik dari pada seribu bulan bagi hambanya yang beribadah. Demikianlah Sempurnanya Allah ta’la, Maha Sempurna Rahman dan Maha Sempurna RahimNya. Dan tidaklah dikurniakan bulan teristimewa ini melainkan hanya kepada umat Muhammad SAW.
Subhanallah…
Kini kekasih tlah berlalu, sebulan lamanya kita telah ditatar, dibimbing, digembleng untuk dapat menjadi umat yang lebih baik. Tak ada lagi yang dapat kita berikan kepada sang kekasih, tangis-sesal juga tak ada guna.
Wahai Ramadhan, apakah aku akan bertemu lagi denganmu tahun depan?”
Pertanyaan itu sudah cukup menggetarkan hati-hati yang hidup, hati-hati yang nampak bahwa kegembiraan sebenarnya adalah apabila mendekatkan diri kepada Allah SWT,
hati-hati yang mampu merasakan betapa besarnya kasih sayang yang Allah buka sepanjang Ramadhan. Hati-hati ini, adalah hati-hati yang menjadi bejana keimanan.
Dan sungguh merugi bagi kita yang telah mencampakkan sang kekasih, biarlah ia pergi untuk kembali pada tahun yang akan datang, mari dihari yang fitri ini kita kembali kepada fitroh dengan jiwa yang bersih layaknya bayi yang baru lahir. agar serasi dengan baju baru yang kita pakai, maka sepatutnya juga kita ubah diri kita menjadi diri yang baru dan yang lebih baik tentunya. karena itulah makna Idul Fitri yang sesungguhnya.

Taqobbalallahu minna wa minkum
»»  read more

Malam Lailatul Qodar


Marhaban ya ramadhan, bulan yang penuh berkah dan kemenangan ini telah kita rasakan kembali, dimana pada bulan ramadhan ini terdapat malam yang begitu istimewa dan malam yang paling dimuliakan oleh Allah SWT yaitu Malam Lailatul Qadar atau yang sering kita sebut Malam seribu bulan.

Malam Lailatul Qadar sendiri merupakan malam yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT sehingga menamainya dengan malam lailatul qadar atau dapat dikatakan juga malam seribu bulan. Ada dari berbagai pihak mengatakan, bahwa malam lailatul qadar adalah malam dimana Allah mentakdirkan ajal, rizki, dan apa yang terjadi selama setahun dari aturan-aturan Allah SWT. Hal ini semua sudah tercantum dalam firman Allah SWT yang berbunyi:
فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ
Artinya: ”Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad Dukhan: 4)

Di dalam ayat tersebut Allah SWT menamai Lailatul Qadar karena sebab tersebut. Menurut pendapat lain, disebutkan bahwa malam Lailatul Qadar karena malam tersebut memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Allah SWT menyebutnya sebagai malam yang berkah, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ
Artinya: ”Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesunggunhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (Ad Dukhan: 3)

Allah SWT juga memuliakan malam ini dalam firman-Nya:
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya: ”Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (Al Qadr: 2-3)

Maksudnya, amalan di malam yang barakah ini menyamai pahala amal seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qadar padanya. Seribu bulan sama dengan 83 tahun lebih. Ini menunjukkan keutamaan malam yang besar ini. Oleh karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam berusaha mencari malam Lailatul Qadar. Beliau bersabda: ”Barang siapa shalat di malam Lailatul Qadar karena keimanan dan mengharapkan pahala, maka dia akan diampuni dosanya yang telah lampau ataupun yang akan datang.”

Allah SWT juga mengabarkan bahwa pada malam itu malaikat Jibril dan ruh turun. Ini menunjukkan betapa besar dan pentingnya malam ini karena turunnya malaikat tidak terjadi kecuali untuk perkara yang besar. Kemudian Allah SWT mensifati malam itu dengan firman-Nya:
سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Artinya: ”Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Al Qadr: 5)
Allah SWT mensifati malam tersebut dengan malam keselamatan. Ini menunjukkan kemuliaan, kebaikan, dan keberkahannya. Orang yang terhalangi dari kebaikan malam itu berarti terhalangi dari kebaikan yang sangat banyak. Inilah keutamaan-keutamaan yang besar pada malam barakah ini.

Akan tetapi, Allah SWT menyembunyikannya di bulan Ramadhan agar seorang muslim bersungguh-sungguh mencarinya. Sehingga amalnya semakin banyak dan dengan itu ia menggabungkan antara banyaknya amal di seluruh malam-malam Ramadhan dan bertepatan dengan malam Lailatul Qadar dengan segala keutamaan, kemuliaan dan pahalanya. Sehingga dengan itu ia mengumpulkan antara dua kebaikan. Ini merupakan karunia Allah SWT atas hamba-hamba-Nya.

Tak lepas dari semua itu, pastinya kita bertanya-tanya kapankah waktu malam lailatul qadar?

Terdapat riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa malam Lailatul Qadar terjadi pada malam 21, malam 23, malam 25, malam 27, atau malam 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. Al-Imam Asy-Syafi’I berkata ”Ini menurut saya, wallahu a’lam, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab sesuai dengan pertanyaannya. Dan pendapat yang paling kuat bahwa itu terjadi pada malam-malam yang ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliauNabi mengatakan: “Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dan Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar itu sendiri, kita dapat melihatnya dari sabda-sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai berikut:
 Dari Ubai ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ”Pagi hari dari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar seperti bejana dari tembaga sampai tinggi.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhu, ia berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam: ”Lailatul Qadar adalah malam yang tenang, cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari terbit di pagi harinya lemah dan berwarna merah.” (HR. Ath-Thayalisi, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Bazzar)
Dari itu semua, kita sebagai umat muslim dan muslimah yang selalu ta’at kepada ajaran-ajaran agama. Patut bersyukur, karena Allah SWT telah menurunkan malam yang sangat mulia dan penuh dengan kemuliaan-kemulian yang sangat luar biasa besarnya. Jadi marilah kita selalu berusaha untuk menjadikan diri kita sebagai umat yang selalu mendapatkan kemuliaan di bulan suci ramadhan ini. Amin.
»»  read more

Pengunjung

Pengikut